Langsung ke konten utama

PONTEN NOL

 

Kemarin ayah Aisha mengabarkan bahwa Aisha mendapatkan nilai Nol untuk Aljabar di sekolahnya. Dia mendapati hal ini ketika memeriksa buku latihan matematika Aisha.

Lantas bagaimana perasaanku mendapati kabar itu? Apakah sedih dan khawatir? Pastinya tidak.

Ayahnya memberitahuku kalau dia mengatakan pada Aisha agar jangan pura-pura hanya mengabarkan hal baik saja ke ibu .

Tentang bab aljabar, sebelumnya Aisha pernah mengatakan kesulitannya kepadaku, meski dia tidak menyebutkan sudah mendapatkan nilai Nol. Lalu ku respon kabar darinya itu dengan mengatakan belajarlah, tanyakan kepada guru apa yang tidak dimengerti dan tidak perlu malu.

Kenapa aku tidak sedih dan khawatir tentang nilai Nol itu, karena yang buat aku sedih kalau Aisha mengabarkan tentang pembulian di sekolah ataupun terkait lingkungan sekolah yang tidak kondusif.

Aisha pernah beberapa kali mengalami pembulian di sekolah sebelumnya, terkait fisik dan juga pengalaman dirinya.

Sedih aku ketika mendengar dia dibuli, apalagi aku tahu beberapa anak yang membuli ternyata kondisinya lebih buruk dari Aisha, baik dari fisik, kemampuan ekonomi apalagi kemampuan akademik.

Benar memang bahwa pembuli itu sebenarnya ingin menutupi kekurangan dirinya, bahwa dirinyalah yang sebenarnya bermasalah.

Kondisi sekolah yang tidak kondusif, contohnya adalah mencontek bersama yang terjadi di kelas dan ini mendapat izin tidak tertulis dari guru dan sekolah. 

Aisha pernah menceritakan hal ini kepadaku saat di sekolahnya dulu. Sungguh hal itu membuatnya frustasi, tatkala kecurangan dilakukan secara berjamaah dan justru diarahkan oleh orang dewasa. Salah seorang guru saat itu memberi kunci jawaban kepada salah seorang murid dan menginstruksikan agar berbagi dengan teman-teman yang lain.

Geli  dan bangga saat mendengar Aisha beberapa bulan yang lalu ketika kutanyakan tentang fenomena mencontek yang mungkin ada di sekolah barunya ini.

Jawabannya di luar perkiraanku sebelumnya: "Bu, dimana-mana mencontek itu ada, biasa itu. Yang gak biasa atau yang gak normal itu kalau satu kelas nyontek dan guru juga malah kasi kesempatan untuk murid-murid mencontek, pura-pura gak tau".

Ohh Tuhan, rasanya sebagai orang dewasa tertampar diriku. Dunia macam apa ini? Dimana para orang dewasa terang-terangan mengajarkan kecurangan sementara di satu sisi mereka berdoa supaya kelak generasi penerusnya menjadi generasi yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar yang akan mendoakan mereka sebagai penghuni surga.

Aishaa...

Taukah Aisha keputusan ibu memilihkan sekolah yang baru ini bukan pada target "hapalan" yang ditawarkan. Alasan ibu adalah kemajemukan yang ada di sekolah  dan dukungan sekolah atas tindakan anti bullying.

Aisha menjadi kelompok minoritas di sana, tapi yang terjadi keseruan-keseruan dalam proses belajar dan pertemanan yang sering Aisha ceritakan ke ibu menjadi angin segar bagi ibu.

Tetaplah jadi anak baik ya nak, baik pada diri sendiri pada lingkungan dan orang-orang di sekitarmu. Ingat belajar ya, karena sepanjang hidup ini kita akan terus belajar.




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

So many years I'm only thinking that you were sailing on your ship.  So many years I always see that u have the best smiling face. So many years I'm waiting to talk to you... again.

Gak tahu

 Pengen nulis tapi gak tau, bego aja, ngeblank aja. Gak berapa pangen juga ngutarain uneg-uneg. Tadi subuh aku teringat tentang kita. Istilah sekarang kita ini sama-sama alpha, sama-sama mau ngatur, sama-sama mau diikuti. Urusan cat dinding aja bikin kita tengkar. #pariaman19Sep23